Sabtu, 24 Agustus 2019

Tawassul dan syariat

Dalil Mengenai Tawassul 

Bertawassul adalah hal yang sering diperdebadkan mengenai kebolehan dilakukannya. Akan tetapi, bertawassul adalah seni berdoa yang dianjurkan dalam agama karena akan menambah kualitas doa dan mempercepat dikabulkannya sebuah doa. 

Dalam al-Quran Allah Swt menyeruh kepada hamba-Nya yang beriman untuk mencari jalan yang membuatnya lebih dekat lagi kepada-Nya. Sebagaimana berfirman dalam Qs. Al-Maidah ayat 35 :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

 Dari ayat yang berbunyi “carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya” menggunakan kata wasilah. “wasilah” adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt sebagai sebab dalam mendekatkan diri kepada-Nya, adab sebagai penghubung untuk pemenuhan segala kebutuhan. Ayat ini menyampaikan kepada setiap individu seorang Mukmin tentang tiga tanggung jawab, dengan cangkupan yang menyebabkan atas sebuah kelaziman dengan tiga tanggung jawab dan kesesuaiannnya kepada pohon keberuntungan. Memilih dan berjalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, ketika ayat ini berkata : “dan bersungguh-sungguhlah mecari jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya...” Berjihad di jalan Allah swt, ketika ayat ini berkata : “dan berjihadlah kalian pada jalan-Nya..” Mengikuti amal sholeh dan ketaqwaan, sebagaimana perkataan ayat : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah swt...” Dalam ayat lain Allah Swt menyeruh manusia untuk bertawassul kepada nama-nama-Nya yang baik, sebagaimana dalam Qs. Al-A’raf ayat 180 : 

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

 “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” 

Dalam hal ini manusia terbagi dua golongan : pertama, golongan yang mendapat petunjuk dengan petunjuk Allah, tidak membandingkan Allah dan yang lain.
 Kedua, golongan yang sesat, yakni yang menyimpangkan kebenaran Asma-Nya dan mendustakan ayat-ayat-Nya dan Allah Swt menggiring mereka ke neraka sebagai pembalasan terhadap mereka yang disebabkan oleh pendustaan mereka tehadap ayat-ayat-Nya.

 Seseorang yang terjatuh ke dalam neraka karena mengabaikan tanda-tanda-Nya. Oleh karena itu dalam ayat ini, Allah Swt mengingatkan hamba-Nya agar tidak melalaikannya dan selalu berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang terbaik. Setiap nama Allah Swt adalah nama yang terbaik untuk menunjukkan makna yang sempurna, bukan yang tercampur dengan kekurangan dan ketiadaan.

 Maka sebagai seorang hamba berdoa dan memohon kepada-Nya dengan nama-nama-Nya, yaitu dengan nama-nama tersebut. Dan seorang hamba harus meningalkan orang-orang yang menyimpan dari kebenaran yang salah memaknai nama-nama-Nya serta orang-orang yang berdoa kepada Allah Swt dengan nama-nama tersebut yang tak selaras dengan sifat-sifat keesaan Allah Swt atau berdoa menggunakan nama-nama-Nya akan tetapi tujuan penggunaan tersebut adalah untuk menodai nama Allah Swt. 

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyebutkan nama-nama yang paling baik ini dalam berdoa dan berzikir. Karena dengan berdoa dan berzikir seorang hamba selalu ingat kepada Allah Swt, dan iman mereka bertambah hidup dan subur dalam jiwa mereka. Firman Allah Swt dalam Qs. Al-Isra’ ayat 110 : 

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا

 “Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)” 

Ayat ini juga, Allah Swt menjelaskan kepada hamba-Nya mengenai keesaan Zat-Nya dengan nama-nama yang baik. Nama-nama yang baik itu menggambarkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, bukan Zat lain selain Allah Swt yang berdiri sendiri. Allah Swt menegaskan dalam ayat ini bahwa kedua nama itu baik digunakan untuk berdoa, karena Tuhan mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang paling baik). Tuhan memberikan keterangan dengan al-husna (paling baik) untuk nama-nama-Nya, karena mengandung pengertian yang mencakup segala sifat-sifat kesempurnaan, kemuliaan, dan keindahan yang tidak satu makhluk pun yang menyerupai. Tawassul adalah tehnik berdoa yang mana tidak melanggar ketauhidan atas keesaan Allah Swt, akan tetapi tawassul merupakan menifestasi dari keyakinan atas kekuasaan Alla Swt. 

dalam buku yang berjudul “imam semesta” dikatakan bahwa alasan mengapa Allah Swt memerintahkan manusia untuk bertawassul kepada para wasilah-Nya adalah : 

Memperkenalkan derajad yang tinggi yang telah dicapai oleh hamba-hamba-Nya yang saleh.

 mendorong mereka kepada ibadah dan ketaatan yang dapat mengantarkannya kepada derajad yang tinggi itu. 

Mencegah dari memandang dirinya unggul dan merendahkan orang lain karna merasa paling benar ibadahnya, merasa dirinya telah mencapai derajad yang tertinggi dan kesempurnaan insani yang teragun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kerasionalan imajinasi

IMAJINASI dan RASIONALITAS Secara terminologi Imajinasi adalah suatu permainan akal yang menggambarkan sesuatu tanpa memiliki realitas ...