Sabtu, 28 September 2019

HAKIKAT DOA




  • HAKIKAT DOA

Ibadah adalah bentuk kata dari isim masdar dari kata abada-ya’budu secara bahasa artinya merndahkan diri dan ketundukan atau al-khudhu wa tadhalluh. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[1]

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ada beberapa macam ibadah, antara lain :
1)   Badaniah : ibadah yang dilakukan secara fisik, seperti salat.
2)   Haji : ibadah wajib yang dikerjakan minimal satu kali dalam hidup dengan pergi ke Mekah dan Medinah disertai rukun dan syarat yang telah ditetapkan.
3)   Puasa : ibadah wajib setahun sekali selama satu bulan yang dilakukan pada bulan Ramadan.
4)   Sunah : ibadah yang tidak diwajibkan, jika dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa, seperti puasa pada hari Senin dan Kamis.
5)   Wajib : ibadah yang diwajibkan, jika dikerjakan mendapat pahala tidak dikerjakan berdosa, seperti salat lima waktu, puasa pada bulan Ramadan.[2]

Doa merupakan senjata bagi penganut ajaran kepercayaan, terkusus dalam agama islam doa menjadi salah satu dari ritual-ritual keagamaan dan bentuk penyerahan diri kepada Allah Swt. Doa tidak seperti layaknya proposal yang di buat untuk tujuan permohonan ataupun permintaan kepada seseorang, sehinggah permohonan itu bisa diajukan kepada semua orang yang dapat mengabulkan permohonan tersebut dan doa juga tidak seperti layaknya alat komunikasi yang bisa menghubungi sembarang orang untuk menerima ataupun memberi sebuah informasi bagi pengguna lainnya.

Doa jangan diartikan Cuma bermakna permintaan atau tholab jika diartikan doa yaitu permintaan kalau begitu apa bedanya dengan memerintah atau menyuruh Allah Swt. Akan tetapi, doa merupakan menifestasi dari ibadah dan bentuk dari ketauhidan, penghambaan dan merasa butuhnya seorang hambah terhadap penciptanya yaitu Allah Swt. Maka dari itu, doa tidak boleh dipanjatkan kepada siapa saja karena doa bukan ritual biasa, jika doa dipanjatkan kepada siapa saja artinya doa itu adalah suatu bentuk kesyirikan kepada Allah Swt, dan jika pelaku doa berdoa kepada sesuatu yang berkuasa dari segala penguasa yaitu Allah Swt sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-Baqarah ayat 165 :
أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعا
“sesunggunya suluruh kekuatan hanya milik Allah”
Ayat ini menunjukan bahwa segala kekuatan hanyalah milik Allah Swt dan seluruh kekuatan bersandar pada keberadaan-Nya, sehinggah taka da setupun yang memiliki kekuasaan yang berdiri sendiri kecuali Dia, maka dari itu kekuasaan selain dari Allah Swt hanyalah kekuasaan yang bersumber dari izin dan kehendak Allah Swt. Maka dapat dikatakan bahwa doa dari pendoa tersebut adalah suatu buntuk ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. Rasulullah Saw berkata : Doa adalah inti ibadah.[3]
Allah Swt berfirman dalam Qs. Ghafir : 60 :
 وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (beribadah kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Dalam Qs. Ghafir ayat 60 “Berdoalah kepada-Ku”, Allas Swt begitu sayangnya kepada seluruh hambah-Nya sehingga memerintahkan dan menyeruh hambah-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan Allah Swt berjanji untuk mengbulkan doa tersebut. Dan dalam ayat ini Allah Swt memutlakkan seruan doa dan istijabah[4]

Ayat di atas terdiri dari dua premis, premis pertama yaitu “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Dan premis kedua yaitu “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (beribadah kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. Pada premis pertama didahului dengan kata doa ٱدۡعُونِيٓ  Berdoalah” dan pada premis kedua terdapat kata yang mengandung makna ibadah عِبَادَتِيmenyembah-Ku”, ayat ini menggambarkan bahwa doa itu  adalah sebagian dari ibadah.

Sebagaimana yang dinyatakan dalam “Tafsir Al-Mizan: Menyingkap Rahasia Doa”, “yakni, pertama Allah menyebut doa kemudian menggantikannya bagian dari ibadah, ini mengisyaratkan adanya satu kesatuan dari doa dan ibadah”.[5]

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (beribadah kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. Dan pada premis kedua ini dikatakan bahwa yang menyombongkan diri dari beribadah atau berdoa kepada-Nya akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Dan ini menunjukkan bahwa makna doa telah diganti menjadi ibadah maka sesunggunya doa itu adalah ibadah.[6]

Ayat ini menyerukan untuk berdoa dan menjanjikan ijabah. Lebih dari itu, ayat ini menamakan doa sebagai ibadah, dengan firman-Nya : “dari beribadah kepada-Ku, yakni berdoa kepada-Ku”Bahkan Allah memutlakkan ibadah itu adalah doa, karena ayat ini mengandung ancaman neraka bagi yang meninggalkan doa. Sedangkan ancaman neraka itu pada dasarnya, hanya diperuntungkan bagi yang meninggalkan ibadah, tidak karena meninggalkan sebagian. Jadi, pada asalnya, ibadah itu adalah doa.[7]

Dalam Al-Kafi, dengan sanad dari Hammad bin Isa dari Abu Abdillah (a.s), ia berkata: Aku mendengar dari Abu Abdillah (a.s) berkata: “berdoalah dan janganlah urusan telah selesai, karena sesungguhnya Allah doa itu adalah ibadah, sesunggunya Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribada kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina hina. Dan Allah berfirman “berdoalah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan bagimu.”[8]
Allah Swt berfirman dalam Qs. Yunus ayat 106 :
وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 
“Dan janganlah kamu berdoa apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.
Dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan larangan-Nya kepada seluruh hamba agar jangan berdoa dan beribadah kepada selain Allah, Sebab selain Allah, tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mudarat, atau memberi kesenangan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat. Seandainya seorang hamba berbuat demikian, maka mereka termasuk ke dalam orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Dan hamba yang berbuat syirik mengembalikan urusan yang dihadapinya kepada selain Allah Swt akan mendapatkan siksaan neraka. Maka kembalilah kepada Allah. Panjatkanlah doa kepada Allah semata karena doa termasuk ibadah yang besar, bahkan otak ibadah.
 
Firman-Nya : Dan janganlah kamu berdoa apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu, ini adalah isyarat larangan dari berbuat kesyirikan, dan penjelasan bahwasanya perbuatan syirik dapat memasukan manusia kedalam golongan orang-orang yang zalim, maka berhak kepadanya apa yang Allah Swt janjikan kepada orang-orang yang zalim sebagaimana dalam firman-Nya.[9]

Maka dari itu setiap hamba haruslah senang tiasa berdoa kepada Allah Swt yang memberikan manfaat dan kebaikan, mengajukan segala keluhan yang dialami oleh pelaku doa sehinggah pelaku doa tidak meminta sesuatu kepada selain Allah Swt yang membuat pelaku doa terjerumus ke dalam kesesatan dan kesyirikan yang menyesatkan pelaku doa tersebut. Barang siapa memutuskan hubungan doa dengan Allah Swt, hambah tersebut telah menyombongkan diri kepada Allah Swt sehingga perbuatan tersebut membawanya ke dalam neraka.


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan) https://kbbi.web.id/ibadah

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan) https://kbbi.web.id/ibadah

[3] Muhammad Baqir Majlisi, Bihar Al-Anwar, (Tehron : Mensyurot Ketobeci), Juz 93, hal. 300.
[4] Sayyid Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, (Jakarta : andita, 1414 H), hal. 67.
[5] Sayyid Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 88.
[6] Allamah Sayyid Muhammad Husein at-Thabataba’i, Al-Mizan Fi Tafsiril Qur’an (Lubnon : Muassatul A’lamia Lilmatbua’h), jil. 17, hal. 342
[7] Sayyid Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 10.
[8] Sayyid Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 68.
[9] Allamah Sayyid Muhammad Husein at-Thabataba’i, Al-Mizan Fi Tafsiril Qur’an,  jil 10, hal. 126.

Kerasionalan imajinasi

IMAJINASI dan RASIONALITAS Secara terminologi Imajinasi adalah suatu permainan akal yang menggambarkan sesuatu tanpa memiliki realitas ...