- HAKIKAT DOA
Ibadah
adalah bentuk kata dari isim masdar dari
kata abada-ya’budu secara bahasa
artinya merndahkan diri dan ketundukan atau al-khudhu
wa tadhalluh. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ibadah
adalah perbuatan untuk
menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya.[1]
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ada beberapa macam ibadah, antara lain :
1)
Badaniah : ibadah yang dilakukan secara fisik, seperti salat.
2)
Haji : ibadah wajib yang dikerjakan minimal satu kali
dalam hidup dengan pergi ke Mekah dan Medinah disertai rukun dan syarat yang
telah ditetapkan.
3)
Puasa : ibadah wajib setahun sekali selama satu bulan yang
dilakukan pada bulan Ramadan.
4)
Sunah : ibadah yang tidak diwajibkan, jika dikerjakan
mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa, seperti puasa pada
hari Senin dan Kamis.
5)
Wajib : ibadah yang diwajibkan, jika dikerjakan mendapat
pahala tidak dikerjakan berdosa, seperti salat lima waktu, puasa pada bulan
Ramadan.[2]
Doa
merupakan senjata bagi penganut ajaran kepercayaan, terkusus dalam agama islam
doa menjadi salah satu dari ritual-ritual keagamaan dan bentuk penyerahan diri
kepada Allah Swt. Doa tidak seperti layaknya proposal yang di buat untuk tujuan
permohonan ataupun permintaan kepada seseorang, sehinggah permohonan itu bisa
diajukan kepada semua orang yang dapat mengabulkan permohonan tersebut dan doa
juga tidak seperti layaknya alat komunikasi yang bisa menghubungi sembarang
orang untuk menerima ataupun memberi sebuah informasi bagi pengguna lainnya.
Doa
jangan diartikan Cuma bermakna permintaan atau tholab jika diartikan doa yaitu permintaan kalau begitu apa bedanya
dengan memerintah atau menyuruh Allah Swt. Akan tetapi, doa merupakan
menifestasi dari ibadah dan bentuk dari ketauhidan, penghambaan dan merasa
butuhnya seorang hambah terhadap penciptanya yaitu Allah Swt. Maka dari itu,
doa tidak boleh dipanjatkan kepada siapa saja karena doa bukan ritual biasa,
jika doa dipanjatkan kepada siapa saja artinya doa itu adalah suatu bentuk
kesyirikan kepada Allah Swt, dan jika pelaku doa berdoa kepada sesuatu yang
berkuasa dari segala penguasa yaitu Allah Swt sebagaimana firman-Nya dalam Qs.
Al-Baqarah ayat 165 :
أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ
لِلَّهِ جَمِيعا
“sesunggunya suluruh kekuatan hanya milik Allah”
Ayat
ini menunjukan bahwa segala kekuatan hanyalah milik Allah Swt dan seluruh
kekuatan bersandar pada keberadaan-Nya, sehinggah taka da setupun yang memiliki
kekuasaan yang berdiri sendiri kecuali Dia, maka dari itu kekuasaan selain dari
Allah Swt hanyalah kekuasaan yang bersumber dari izin dan kehendak Allah Swt.
Maka dapat dikatakan bahwa doa dari pendoa tersebut adalah suatu buntuk ibadah
dan ketaatan kepada Allah Swt. Rasulullah Saw berkata : Doa adalah inti ibadah.[3]
Allah
Swt berfirman dalam Qs. Ghafir : 60 :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu
berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (beribadah
kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
Dalam
Qs. Ghafir ayat 60 “Berdoalah kepada-Ku”,
Allas Swt begitu sayangnya kepada seluruh hambah-Nya sehingga memerintahkan dan
menyeruh hambah-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan Allah Swt berjanji untuk
mengbulkan doa tersebut. Dan dalam ayat ini Allah Swt memutlakkan seruan doa
dan istijabah[4].
Ayat
di atas terdiri dari dua premis, premis pertama yaitu “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Dan premis
kedua yaitu “Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (beribadah kepadaku) akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. Pada premis pertama didahului
dengan kata doa ٱدۡعُونِيٓ “Berdoalah”
dan pada premis kedua terdapat kata yang mengandung makna ibadah عِبَادَتِي “menyembah-Ku”, ayat
ini menggambarkan bahwa doa itu adalah
sebagian dari ibadah.
Sebagaimana
yang dinyatakan dalam “Tafsir Al-Mizan: Menyingkap Rahasia Doa”, “yakni, pertama Allah menyebut doa kemudian
menggantikannya bagian dari ibadah, ini mengisyaratkan adanya satu kesatuan
dari doa dan ibadah”.[5]
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku (beribadah kepadaku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina”. Dan pada premis kedua ini dikatakan bahwa yang
menyombongkan diri dari beribadah atau berdoa kepada-Nya akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Dan
ini menunjukkan bahwa makna doa telah diganti menjadi ibadah maka sesunggunya
doa itu adalah ibadah.[6]
Ayat ini menyerukan untuk berdoa dan menjanjikan
ijabah. Lebih dari itu, ayat ini menamakan doa sebagai ibadah, dengan
firman-Nya : “dari beribadah kepada-Ku,
yakni berdoa kepada-Ku”Bahkan Allah memutlakkan ibadah itu adalah
doa, karena ayat ini mengandung ancaman neraka bagi yang meninggalkan doa.
Sedangkan ancaman neraka itu pada dasarnya, hanya diperuntungkan bagi yang
meninggalkan ibadah, tidak karena meninggalkan sebagian. Jadi, pada asalnya,
ibadah itu adalah doa.[7]
Dalam
Al-Kafi, dengan sanad dari Hammad bin Isa dari Abu Abdillah (a.s), ia berkata:
Aku mendengar dari Abu Abdillah (a.s) berkata: “berdoalah dan janganlah urusan
telah selesai, karena sesungguhnya Allah doa itu adalah ibadah, sesunggunya
Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri dari beribada kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina hina.
Dan Allah berfirman “berdoalah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan bagimu.”[8]
Allah
Swt berfirman dalam Qs. Yunus ayat 106 :
وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ
ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan
janganlah kamu berdoa apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula)
memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang
demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang
zalim”.
Dalam ayat ini Allah Swt menjelaskan
larangan-Nya kepada seluruh hamba agar jangan berdoa dan beribadah kepada
selain Allah, Sebab selain Allah, tidak ada yang dapat memberi manfaat dan
mudarat, atau memberi kesenangan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat.
Seandainya seorang hamba berbuat demikian, maka mereka termasuk ke dalam
orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Dan hamba yang berbuat syirik
mengembalikan urusan yang dihadapinya kepada selain Allah Swt akan mendapatkan
siksaan neraka. Maka kembalilah kepada Allah. Panjatkanlah doa kepada Allah
semata karena doa termasuk ibadah yang besar, bahkan otak ibadah.
Firman-Nya : Dan janganlah
kamu berdoa apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi
mudharat kepadamu, ini adalah isyarat larangan dari berbuat
kesyirikan, dan penjelasan bahwasanya perbuatan syirik dapat memasukan manusia
kedalam golongan orang-orang yang zalim, maka berhak kepadanya apa yang Allah
Swt janjikan kepada orang-orang yang zalim sebagaimana dalam firman-Nya.[9]
Maka
dari itu setiap hamba haruslah senang tiasa berdoa kepada Allah Swt yang
memberikan manfaat dan kebaikan, mengajukan segala keluhan yang dialami oleh
pelaku doa sehinggah pelaku doa tidak meminta sesuatu kepada selain Allah Swt
yang membuat pelaku doa terjerumus ke dalam kesesatan dan kesyirikan yang
menyesatkan pelaku doa tersebut. Barang siapa memutuskan hubungan doa dengan
Allah Swt, hambah tersebut telah menyombongkan diri kepada Allah Swt sehingga
perbuatan tersebut membawanya ke dalam neraka.
[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan) https://kbbi.web.id/ibadah
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan) https://kbbi.web.id/ibadah
[3] Muhammad Baqir
Majlisi, Bihar Al-Anwar, (Tehron : Mensyurot Ketobeci), Juz 93, hal.
300.
[4] Sayyid
Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir
Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, (Jakarta : andita, 1414 H), hal. 67.
[5] Sayyid
Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir
Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 88.
[6] Allamah Sayyid
Muhammad Husein at-Thabataba’i, Al-Mizan Fi
Tafsiril Qur’an (Lubnon : Muassatul A’lamia Lilmatbua’h), jil. 17,
hal. 342
[7] Sayyid
Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir
Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 10.
[8] Sayyid
Muhammad Husain Thabataba’i, Tafsir
Al-Mizan : Menyingkap Rahasia Doa, hal. 68.